Sabtu, 06 Desember 2014

Penerapannya bagi Kemaslahatan Umat


Penerapannya bagi Kemaslahatan Umat

Pada dasarnya perang Peloponnesia yang telah diabadikan oleh Tuchydides mengajarkan kepada kita, khususnya akademisi Hubungan Internasional untuk senantiasa memperhatikan potensi apa yang akan ditimbulkan oleh power transition yang dilakukan oleh suatu negara. Metode realisme yang dikedepankan oleh Tuchydides telah menggambarkan betapa kuatnya pengaruh kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara dalam menimbulkan suatu konflik. Konflik tersebut diamati sebagai bentuk alamiah dari sifat negara yang antagonistik. Dari sifat negara yang alami tersebutlah perang Peloponnesia tidak terelakkan pada masa itu.
Berdasarkan karya Tuchydides yang berjudul “The History of Peloponnesian War”, Yunani klasik pada abad kelima sebelum masehi didominasi oleh dua negara kota Athena dan Sparta. Athena membentuk sebuah aliansi yang bernama Delian League (Liga Delia) yang demokratis. Masyarakat Athena memiliki hak kebebasan dalam mengatur kehidupannya masing-masing. Kondisi tersebut memang layak mereka dapatkan karena negara Athena berada pada posisi yang strategis dalam segi perdagangan yang mensejahterakan rakyatnya. Tidak hanya itu, Athenapun memiliki kekuatan bahari. Armada laut yang dimiliki oleh Athena telah membebaskan Ionia dari Persia. Anggota angkatan lautnya diberi gaji dan dimasukkan ke dalam majelis. Bila kita analogikan Athena dengan salah satu negara di abad sekarang, yang paling cocok adalah negara Amerika Serikat. Sedangkan Sparta membentuk sebuah aliansi yang bernama Peloponnesian League (Liga Peloponnesia). Sparta dikenal sebagai negara yang militan. Negara tersebut lebih menekankan militer dan menyokong angkatan darat dengan pasukan artileri brsenjata berat.
Keduanya pernah tergabung dalam satu kekuatan ketika melakukan perlawanan terhadap Persia yang menhasilkan kemenangan bagi bangsa Yunani. Athena mengklaim bahwa kemenangan itu adalah kemenangan Athena. Pernyataan tersebut memang berdasarkan fakta sejarah bahwa perlawanan tersebut didominasi oleh kekuatan laut Athena yang tersebar di tiga wilayah, yaitu Marathon, Salamis dan Plataea. Adapun Sparta, akan tetapi hanya berpusat ke dalam kekuatan darat. Setelah kemenangan atas Yunani itu, Athena melakukan ekspansi di daerah perairan Aegea untuk meraih negara-negara lain dalam membentuk satu negara yang lebih besar dan dijadikan sebagai pertahanan dari serangan Persia. Setiap negara yang ingin bergabung harus membayar pajak kepada Athena. Tidak sedikit negara yang terpaksa bergabung karena didesak oleh kebutuhan yang bergantung kepada kekayaan Athena. Sehingga terbentuklah sebuah kerajaan yang sangat besar di perairan Aegea. Koneksi Athena meluas ke saentro wilayah di luar Yunani berkat kekuatan komersialnya yang sangat signifikan. Banyak sekali negara-kota lainnya baik terpaksa maupun tidak, merapat dengan Athena demi mendapat perlindungan wilayah perairan dari serangan luar. Tidak hanya itu, kebudayaan Athena yang dominan dengan situasi yang demokratis telah menarik perhatian banyak negara dalam melakukan kerjamasama politik. Maka semakin besar saja pengaruh Athena kala itu dalam hubungan antarnegara. Dari sinilah garis transisi kekuasaan Athena dimulai.
Selain itu dalam Perang Peloponnesia atau Perang Peloponnesos juga dapat mengajarkan pada kita bagaimana kita harus bersifat pada orang lain. Sebagai seorang yang memiliki akal sehat yang baik dari makhluk lainnya diharapkan dari adanyakejadian dimasa lalu itu kita tidak mudah percaya dengan apa yang diktakan oleh orang lain sebelum kita mengetahui kebenarannya. Menghilangkan sifat saling curiga terhadap orang lain, apalagi hal itu dilakukan kepada orang-orang yang masih mempunyai hubungan saudara dengan kita. Dalam bernegara hendaknya kita saling hidup berdamai karena persatuan dan kesatuan itu sangat penting untuk membangun pondasi Negara yang kokoh.




Fase-Fase dan Akibat Terjadinya Perang Peloponnesia



Fase-Fase dan Akibat Terjadinya Perang Peloponnesia
  
1. Fase-Fase Perang Peloponnesia
Perang Peloponnesia terjadi selama 27 tahun terbagi menjadi 3 fase, Fase pertama terjadi  dari tahun 431-421 SM, fase kedua pada tahun 421-416 SM, sebagai satu periode yang tidak mudah untuk berdamai, dintandai dengan kekerasan militer dan perdebatan diplomasi, fase ketiga pada tahun 416-404 SM, ditandai dengan banyaknya peperangan, serangan Athena ke Syracause, intervensi Persia, dan akhir-akhir penggulungan kekuasaan angkatan alaut beserta kerajaan Athena. Dalam historiografi konvensional telah membagi perang Peloponesus menjadi tiga periode, yang pertama adalah perang Archidamian.
Perang Archidamian dimulai oleh perang Stratus, dimana Athena mengeluarkan kekuatan angkatan lautnya dengan mengirim 100 kapal dan berhasil merusak kota Elis dan Laconia. Lalu orang-orang Thebes, sekutu Sparta yang menyerang Boeotian kota di Plataea, sekutu Athena pada April 431 SM. Lalu pada pertengahan Juni, para Peloponesian yang dipimpin oleh Archidemian II menginvasi Attica. Pasukan Sparta yang terkenal tangguh tersebut dapat menguasainya hanya dalam tiga minggu. Hal tersebut terjadi dengan cepat karena Perikles salah menggunakan strategi perang, strategi yang digunakan oleh Perikles adalah serangan secara frontal dan terbuka padahal pasukan Sparta sudah terlatih sejak dini mampu menghadapinya dengan mudah. Dan hampir sepertiga hingga duapertiga penduduk Athena kehilangan nyawanya. Dan sialnya lagi Athens terkena wabah mematikan yang membuat Perikles meninggal dunia pada 429 SM. Dikarenakan takut tertular wabah tersebut maka pasukan Peloponesus pun akhirnya meninggalkan Attica yang telah hancur.
Sepeninggal Perikles yang telah meninggal karena wabah penyakit,maka munculah tokoh oposisi dari Perikles yaitu Cleon. Ia membuat pasukan Athena lebih agresif dalam melawan Sparta. Dan mulailah operasi penyerangan ke Peloponesos, dengan membawa 5 kapal trireme dengan sekitar 400 pasukan hoplites di bawah pimpinan Demosthenes seorang jenderal yang sangat pintar. Dalam perjalanan mereka terkena badai hingga hampir sampai ke daratan dekat Semenanjung Pylos. Dekat sana terdapat Pulau Spachteria dimana menjadi pos terlemah dari Sparta, dan dengan strategi perang yang sangat brilian dari Demosthenes maka pasukan Sparta mampu dijebak di Spachteria dan menunggu mereka menyerah. Akhirnya Athena mendapatkan kemenangannya atas Sparta di Spachteria, mereka berhasil menangkap sekitar 300 hingga 400 pasukan hoplites milik Sparta dan menjadikan mereka sebagai alat penawaran.
Mengetahui hal tersebut Jenderal pasukan Sparta, Brasidas mengumpulkan pasukannya dan melakukan march menuju ke Amphipolis kota koloni Athena yang merupakan kota yang menghasilkan perak yang menjadi sumber dana perang utama bagi Athena. Thucydides yang mengetahui hal itu mencoba mengejar pasukan Sparta namun terlambat menghalau Brasidas menyerang Amphipolis. Dan dalam Perang Amphipolis ini kedua pimpinan dari Sparta dan Athena, yaitu Brasidas dan Cleon meninggal. Setelah hal tersebut maka kedua belah pihak setuju untuk mengadakan perjanjian damai, yang syaratnya adalah kota Amphipolis ditukar dengan pasukan Sparta yang telah ditawan oleh Athena, perjanjian tersebut disebut Peace of Nicias (421 SM) dimana mempertahankan status quo selama 50 tahun. Dan inilah menjadi akhir dari periode pertama perang Peloponesus : Perang Archidamian.
Adanya Perjanjian Nicias pun tidak merubah faktor rivalitas antara kedua daerah tersebut. Setelah meninggalnya Cleon, Athena mengadakan pemilihan dan dimenangkan oleh Alcibiades, keponakan dari Perikles. Dalam masa ini Athena memanfaatkan waktu untuk berkoalisi dengan Argos, Mantinea, dan Elis. Namun seiring dengan waktu Sparta mengalahkan Martinea dan setelah itu Sparta membuat perjajnian dengan Argos yang secara langsung adalah sebuah pengkhianatan. Di lain tempat yaitu di Sicilia, sekutu Athens diserang oleh bangsa dari Syracuse. Bangsa Syracuse adalah bangsa yang ber-etnik Dorian (sama dengan etnik bangsa Sparta) maka dengan itu Alcibiades memerintahkan untuk membantu sekutunya tersebut dengan mengirimkan pasukan untuk berlayar ke Sicilia. Dalam ekspedisi itu terdapat 134 kapal, lebih dari 500 infantry, dan 30 cavalry.
Setelah samapai di Sicilia sejumlah kota disana mulai bergabung dengan pasukan Athena. Dalam sekejap saja Syracuse mampu dihancurkan oleh jumlah pasukan Athena yang sangat superior tersebut. Namun mereka terhalang oleh datangnya musim dingin/salju, oleh karena itu pasukan Athena menunggu dan menghabiskan waktu mereka untuk merencanakan bagaimana untuk menghancurkan Syracuse secara total. Penundaan penyerangan oleh pasukan Athena tersebut ternyata mampu dimanfaatkan oleh pihak Syracuse dengan mencoba meminta bantuan kepada Sparta, dan akhirnya Sparta mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Gylippus. Ternyata dengan bantuan tersebut Syracuse dapat dipertahankan dan mengalahkan pasukan Athena.
Kekalahan tersebut kemudian pasukan Athena di Syracuse meminta bantuan juga dari pusat dan dikirimkanlah Jendral brilian mereka yaitu Demosthenes. Setelah mengalami beberapa pertempuran lagi pasukan Athena tetap saja mengalami kekalahan, oleh karena itu Demosthenes menganjurkan untuk mundur tetapi Nicias awalnya menolak tetapi pada akhirnya menyetujui. Dengan hampir semua pasukan yang terbunuh dan hanya sedikit saja yang mampu pulang ke rumah. Dengan berakhirnya perang di Sicilia, sekali lagi Athena mengalami kekalahan kembali. Dan Athena mencoba untuk bertahan setalah mengalami kekalahan tersebut dan mencoba untuk bangkit kembali dengan cepat. Memanfaatkan kelemahan Sparta yang lambat dalam menyiapkan pasukannya ke Aegea dan kelelahan fisik pasukannya serta pasukan dari Persia yang juga belum siap.  Dan juga ketidaksigapan pegawai pemerintahan dari Sparta yang memang tidak terlatih sebagai diplomat. Selain itu Athena juga mempunyai kekayaan yang sangat berlimpah. Namun Athena juga sempat digoyang pemberontakan revolusi oligarki.
Pertempuran terakhir pun terjadi pada tahun 406 SM, Athena memenangkan pertempuran Laut di Arginusae, dimana Sparta kehilangan banyak kapal dan mengalami penurunan moral. Sparta yang dipimpin oleh Jendral Lysander. Dia adalah bukan anggota keluarga kerajaan Sparta dan juga bukan seorang ahli strategi tetapi dia adalah seorang diplomat yang mempunyai hubungan baik dengan pangeran Persia, Cyrus (putra Darius II). Dan ternyata Lysander telah belajar banyak dari kekalahan di Arginusae dalam pertempuran di Laut Aegospotami (404 SM) kemenangan menjadi milik Sparta dengan mampu menghancurka 168 kapal dan menangkap sekitar tiga ribu pasukan Athena dengan bantuan Persia. Dan mampu masuk ke pusat kota setelah menembus dinding yang sangat kokoh. Athena menyerah pada akhirnya pada tahun 404 SM setelah mengalami masa-masa perang yang merupakan bencana besar bagi Athena.

2. Akibat Perang Peloponnesia
Sebagai akibat dari Perang Peloponnesia dan perang-perang kecil pada masa selanjutnya, polis-polis selanjutnya, polis-polis Yunani semakin menunjukkan ketidakstabilan sosial dan politik. Orang-orang Yunani terbelenggu atas kegagalan mereka untuk mengubah polis-polis yang banyak jumlahnya itu menjadi “Satu Yunani”. Bagi Yunani, jelas akibat Perang Peloponnesia, orang-orang Yunani mulai membenahi keadaan ekonominya yang serba kacau balau. Pengeluaran biaya perang mengakibatkan kekosongan kas Negara dan orang-orang tidak dapat lagi mengandalkan keuangan Liga Delos eperti sebelumnya.
Semenjak kekalahanSparta tahun 371 SM, pemerintahan diselenggarakan oleh dominasi negara asing. Muncullah orang-orang Macedonia yang dating dariarah utara Yunani, di ujung Laut Aegea, yang kini merupakan tempat bertemunya penduduk dari kelompok ras dan kebudayaan yang berbeda.

Latar Belakang Terjadinya Perang Peloponnesia



Latar Belakang  Terjadinya Perang Peloponnesia

Perang Peloponnesos atau Perang Peloponnesia (431–404 SM) adalah konflik militer pada zaman Yunani Kuno, terjadi antara Athena dan kekaisarannya melawan Liga Peloponnesos, dipimpin Archidamia. Sparta melancarkan invasi ke Attica, sementara Athena mengambil kesempatan keunggulan angkatan lautnya dan menyerang pantai Peloponnesos untuk menekan mereka. Periode perang ini berakhir pada tahun 421 SM, dengan ditandatanganinya Perjanjian Nicias. Namun, pertempuran kembali meletus. Pada tahun 415 SM, Athena melakukan invasi besar-besaran ke Syracusa di Sisilia. Serangan ini gagal, dengan kehancuran seluruh tentara tahun 413 SM. Kegagalan ini diikuti dengan fase ketiga perang, yang disebut Perang Decelea atau Ionia. Sparta, yang menerima dukungan dari Persia, mendukung pemberontakan di Athena, menghalangi keunggulan angkatan laut Athena. Kehancuran angkatan laut Athena di Aegospotami mengakhiri perang, dan Athena menyerah pada tahun berikutnya.
Alasan utama Perang Peloponnesia disebabkan ketakutan Sparta akan kekuasaan Athena yang tumbuh kuat dan ekonomi yang makmur. Athena menguasai sebagian besar wilayah Mediterania bersama dengan Yunani/Hellas, 50 tahun sebelum perang. Menurut Thucydides (seorang sejarawan Yunani dan penulis dari Alimos) bahwa setelah Athena menjadi pemimpin sekutu Delian, mereka memiliki kekuasaan tertinggi yang dikenal sebagai Kekaisaran Athena. Mereka hampir mengusir Persia dari daerah mereka di Aegean dan supremasi wilayah yang diduduki lebih banyak. Kekuatan angkatan laut Athena juga berkembang hari demi hari dan membahayakan negara-negara perbatasan.
Selama Perang Persia pada tahun 480 SM kekuasaan Athena telah tumbuh dengan pesat, dan dengan bantuan sekutu Athena melanjutkan serangannya ke wilayah-wilayah Persia dari Ionia dan Aegea. Athena juga membangun tembok di sekitar wilayah bisnisnya untuk menyelamatkan mereka dari serangan darat Sparta ketika Persia meninggalkan Yunani. Keadaan ini membuat marah Spartan tapi tidak mengambil tindakan apapun pada waktu itu. Tahun 459 SM Athena mengambil keuntungan antara Megara dan Corinth berpihak dengan Megara. Hal ini membantu mereka mendapatkan wilayah di Isthmus Corinth yang mengakibatkan perang, dikenal sebagai ‘Perang Peloponnesia I (Pertama)’ terjadi antara Athena dengan Sparta, Corinth, Aegea dan negara-negara lain.
Pada akhir perang Peloponnesia, Athena mundur dari daratan Yunani karena serangan besar Spartan. Perjanjian Damai 30 tahun ditandatangani antara Athena dan Sparta di tahun 446 SM. Perang Peloponnesia (431-404 SM) terjadi antara kekaisaran Athena dan sekutu Peloponnesia yang dipimpin Sparta. Sekutu Peloponnesia merupakan koalisi dari Thebes, Corinth dan Sparta. Perang Peloponnesia dibagi menjadi 3 fase yaitu Perang Archidamian, Perang Sisilia dan Perang Ionia (Decelean). Perang dimulai pada tanggal 4 April 431 SM ketika orang-orang Thebes meluncurkan serangan mendadak ke Plataea yang juga sebagai mitra Athena. Perang Peloponnesia berakhir pada tanggal 25 April 404 SM ketika Athena menyerah, Peloponnesia kemudian merenovasi kota-kota Yunani secara keseluruhan. Kekaisaran Athena merupakan pihak yang lebih kuat sebelum perang, kemudian dikurangi dan menjadi budak Sparta. Setelah perang, Sparta merupakan negara penguasa Yunani, perang Peloponnesia menghancurkan ekonomi dan membawa kemiskinan dan penderitaan pada bangsa Yunani. Athena tidak pernah lagi mendapatkan kemakmuran seperti sebelumnya setelah Perang Peloponnesia.

Rabu, 26 November 2014

SEJARAH PERADABAN ROMAWI



Sejarah Peradaban Romawi Kuno
Kota Roma yang menjadi pusat kebudayaan mereka terletak di muara sungai Tiber. Waktu berdirinya Kota Roma yang yang terletak di lembah Sungai Tiber tidak diketahui secara pasti. Legenda menyebut bahwa Roma didirikan dua bersaudara keturunan Aenas dari Yunani, Remus dan Romulus.

"Menurut berita2 lama, Roma didirikan oleh Remus dan Romulus pada tahun 750. Remus dan Romulus ini anak Rhea silva, turunan Aenas –seorang pahlawan Troya jang dapat melarikan diri waktu Troya dikalahkan dan dibakar oleh bangsa Jujani"

Orang-orang Romawi memiliki kepercayaan terhadap dewa-dewa, seperti orang-orang di Yunani. Hanya saja dewa-dewa di romawi berbeda dengan di Yunani. Dewa-dewa yang dipercayai oleh orang-orang Romawi antara lain :
1. Jupiter (raja dewa-dewa)
2. Yuno (dewi rumah tangga)
3. Minerus (dewi pengetahuan)
4. Venus (dewi kecantikan)
5. Mars (dewa perang)
6. Neptenus (dewa laut)
7. Diana (dewi perburuan)
8. Bacchus (dewa anggur)

Roma berhasil menundukkan bangsa-bangsa yang tinggal disekitarnya satu persatu, baik dengan jalan kekrasan maupun jalan damai. Hingga akhirnya Roma berhasil menguasai seluruh Italia Tengah.

Sebelum itu, sekira tahun 492, Daerah Latium sebagai tempat berdirinya kota Roma dikuasai oleh kerajaan Etruskia, yang terletak disebelah utaranya sampai pada tahun 500 SM. Pada tahun 500 SM bangsa Latium memberontak terhadap kerajaan Etruskia dan berhasil memerdekaan diri serta mendirikan negara sendiri yang berbentuk republik. Maka sejak itu, Roma menjadi republik dan kepala negaranya disebut konsul yang dipilih setiap tahun sekali. Konsul selain menjadi penguasa negara juga ketua senat dan panglima besar.

Bangsa Romawi yang semula petani, setelah mengalahkan penguasa Etruskia kemudian menjadi bangsa penguasa besar dengan manaklukan wilayah yang luasa sampai ke Laut Tengah. Bangsa yang semula petani ini kemudian menjadi masyarakat kapitalis dan materialis. Selain sebagai bangsa yang suka dengan perang bangsa Romawi juga mengumpulkan kekayaan sebagai modal usaha. Mereka membali ladang-ladang dan kemudian penggarapannya dilakukan oleh para budak yang didatangkan dari daerah-daerah jajahan.

Penguasa Gayus Julius Caesar meluaskan wilayahnya sampai ke Jerman, Belgia, Belanda dan bahkan sampai menyebrangi selat Calis ke Inggris. Selain sebagai penguasa mutlak Julius Caesar juga mengembangkan kalender baru yang disebut kalender Julian. Kelender ini terus dipakai sampai kemudian diperbaharui oleh Gregorius yang kemudian dikenal dengan dengan kalender Gregorius. Julius Caesar dibunuh oleh Brutus dan Casinus yang menginginkan suatu pemerintahan berbentuk Republik. Akan tetapi, cita-cita kedua orang itu tidak berhasil dan tetap mempertahankan sistem pemerintahan diktator. Anak angkat Julius Caesar bernama Oktvaianus kemudian dapat menguasai Romawi kembali dan berkuasa secara diktator.

Dalam kekuasaannya, Oktavianus banyak dikelilingi orang-orang pandai sehingga ia dapat berkuasa cukup lama. Oleh senat Oktavianus diberi gelar "Augustus" yang artinya "Yang Maha Mulia". Dengan stabilitas pemerintahan pada masa Kaisar Octavianus maka mulailah bidang kebudayaan mendapat perhatian.

Kebudayaan Romawi mendapat unsur-unsur pokok dari kebudayaan Etrusia dan Yunani. Hal ini berarti kebudayaan Romawi merupakan hasil perpaduan dari kebudayaan yunani dan Etrusia, tanapa ada unsur-unsur dari kebudayaan romawi sendiri.

Pada masa Octavianus, orang-orang Romawi melihat sesuatu dari sudut kegunaannya. Pandangan hidup bangsa Romawi ini memberikan warna pada kehidupan agama. Tepatlah apa yang diungkapkan oleh Cicero, bahwa agama bagi mereka bukan untuk mendidik manusia kepada kebajikan, melainkan manusia sehat dan kaya. Dengan pandangan hidup yang praktis ini menjadi ciri utama orang-orang Romawi.

Dalam lapangan ilmu pengetahuan, bangsa Romawi bukanlah pencipta teori-teori, tetapi pelaksana teori yang telah ada sejak zaman Yunani. Dengan ini mata rantai jang seakan-akan putus dalam perkembangan ilmu pengetahuan menjadi tumbuh kembali. Bila sarjana Yunani adalah ahli teori, maka sarjana Romawi adalah ahli praktek.

Masa Octavianus merupakan masa penyempurnaan seni dan budaya Romawi. Pengaruh budaya Yunani mulai masuk dengan kuatnya sejak tahun 146 SM bersamaan dengan usaha bangsa Romawi melakukan penaklukan di Laut Tengah. Selama kekuasaan Romawi, seni Romawi disebarkan ke Eropa dan sekitar Laut Tengah.

Seni Romawi sebenarnya merupakan pencampuran dua unsur seni budaya, yaitu Romawi yang merupakan daerah kekuasaan Etruskia dan seni Yunani. Pada hekakatnya budaya ini bukan berasal dari rakyat biasa melinkan dari golongan bangsawan. Golongan seniman besar, seperti yang terdapat di Yunani di Roma tidak ada. Justru bangsa Romawi mendatangkan seniman-seniman dari Yunani. Oleh karena itu, pengaruh Yunani di Romawi sangat kuat. Politik maupun seni dan budaya Roma di bawah bangsa Etruskia. Dengan begitu seni Romawi pada dasarnya adalah pencampuran unsur-unsur budaya Etruskia dan Yunani yang kemudian menjadi seni budaya baru.

Orang Romawi senang menciptakan sesuatu secara besar-besaran karena mereka suka sesuatu yang megah, mewah, dan monumental, serta menarik perhatian. Semua hasil karya budaya terutama karya seni rupa, baik berupa seni bangunan, seni patung atau relief, maupun seni lukisnya dibuat serba besr, megah, dan penuh hiasan. Orang-orang Romawi menciptakan karya teknik bangunan yang menggumkan, seperti bangunan saluran air (aquaduct), jembatan, gedung besar untuk balai pertemuan dan pasar, bangunan untuk olahraga dan pentas seni (thermen, theater, amphitheater). Selain bangunan diatas, juga terdapat banguan kuil untuk persemayam dewa. Orang Romawi melanjutkan pengetahuan orang Yunani antara lain bangunan dengan kontruksi lengkung untuk membuat ruangan-ruangan menjadi luas.

Bangunan atap kubah untuk pertama kali diciptakan kurang lebih tahun 30 SM untuk bangunan Thermae di Baaie. Mereka juga membangun bangunan umum seperti jalan raya. Jalan raya yang terkenal adalah jalan Via Apia.

Rumah-rumah dewa atau kuil yang dibangun memiliki ukuran besar. Kuil-kuil yang berukuran besar tersebut antara lain Tempel Jupiter (abad ke-6 SM), Appolo dan Venus di Roma. Untuk setiap bangunan kuil tersebut di gunakan tinga-tiang penyangga. Batang tiang penyanggga atap menggunakan menggunakan kepala tiang dengan ciri-ciri Yunanni seperti Doria, Ionia, dan Korinthia.

Bangsa Romawi juga ahli dalam pembuatan patung terutama patung setangah dada atau potret. Bentuk wajah dibuat dengan sangat teliti, sedangkan tubuh dan lainnya lebih sederhana. Kecakapan membuat patung ini berhubungan dengan kebiasaan keluarga-keluarga terkemuka bangsa Romawi yang senang membuat patung nenek moyang dalam jumlah banyak dan sangat teliti. Biasanya patung nenak moyang disimpan di rumah dan ditempatkan dalam satu ruangan khusus yang disebut Atrium. Atrium ini juga dilengkapi dengan altar.

Orang-orang Romawi dalam membuat patung memiliki kebiasaan yang sama dengan bangsa Yunani. Dalam membuat patung, orang-orang Romawi selalu mematungkan tokoh-tokoh penguasa, tokoh-tokoh politik, dan cendikiawan. Banyak sekali tokoh penguasa, tokoh politik dan cendikiawan yang dijadikan sebagai latar dalam membuat patung seperti wajah tokoh Julius Caesar, Agustus, Tuchidides, Demostenes, Caracalla, dan lainnya. Gambar wajah para tokoh ini selain dipatungkan juga dilukiskan pada mata uang logam.

Bangsa Romawi juga senang pada keindahan rumahnya. Dinding bagian dalam rumah dihias dengan lukisan untuk memberikan kesan luas. Kegiatan memperindah dinding ini biasa pada dinding rumah dengan cara melukis pemandangan alam dan bangunan-bangunan rumah yang seolah-olah terlihat dari jendela. Kegiatan melukis pada dinding-dinding rumah yang dilakukan oleh orang-orang Romawi ternyata meniru kebiasaan bangsa Yunani. Dengan demikian melukis Cara melukis yang dilakukan oleh orang Romawi memdapat pengaruh basar dari Yunani. Dari seni melukis pada dinding ini banyak ditemukan peninggalan-peninggalan yang merupakan hasil kebudayaan masyarakat Romawi. Salah satu dari sekian banyak peninggalan kebudayaan ini adalah peninggalan lukisan didinding rumah yang terdapat di Pompeii. Peninggalan lainnya terdapat di Roma yang menggambarkan pengantin perempuan dan teman-temannya sedang mempersiapkan upacara perkawinan. Selain pada dinding rumah, seni lukis juga ditemukan pada mangkuk, jambangan, piring dan tempat bunga.

Bangsa Romawi yang senang membuat bangunan monumental menyebabkan bangsa ini kaya dengan hasil-hasil bangunan berupa monumen dan kuil. Monumen yang dibuat oleh bangsa romawi berupa pintu gerbang kemenangan atau tiang kemenangan. Bangunan monumen ini digunaakn untuk memperingati suatu peristiwa sejarah. Pada banguan monumen itu diberi relief yang menggambarkan peristiwa kemenangan. Peninggalan seni monumen ini terdapat di Roma dan dibeberapa daerah jajahan Romawi.

Perubahan ketatanegaraan Romawi dari republik ke bentuk kekaisaran tidak mengendurkan semangat dan perkembangan budaya orang-orang Roma untuk mendirikan bangunan berupa bangunan monumental. Hanya saja, apabila pada masa republik pendukung seni budaya dilakukan oleh para bangsawan. Namun, setelah menjadi kekaisaran, yang mendukung seni budaya adalah golongan istana. Sejak kaisar Agustus, seni budaya elbih cenderung mejadi seni kuna yang berkiblat pada Yunani.

Setiap kaisar yang berkuasa di Romawi selalu meninggalkan seni budaya beruapa bangunan monumen. Kebiasaan yang dilakukan oleh kiasar-kaisar ini dilakukan sebagai sarana untuk menunjukan jasanya kepada negara. Maka sejak kiasar-kaisar ini berkuasa, banyak sekali didirikan bangunan besar dan megah dengan menggunakan bahan dari marmer.
Peninggalan seni bangunan Romawi pada masa kekaisaran ini jumlah sangat banyak. Banguan-banguan monmen tersebut antara lain:
  • Kuil Zeus yang didirikan di Olympia.
  • Kuil Jupiter Heliopalitanus di ba'albek (syria)
  • Pantheon merupakan sebuah kuil yang kemudian digunakan untuk gereja.
  • Mousoleum di Roma yang didirikan pada tahun 175 SM.
    Mousoleum merupakan bangunan yang berupa makam yang indah. Pada sisi dalam ruang Mousoleum dihiasai ddengan berbagai ornamen yang indah.
  • Teater di Pompeii, solona, dan Asperados.
  • Amphiteater
    Amphpiteater merupakan perpaduan dua buah teater yang dipergunakan untuk pertunjukan mengadu benteng dan untuk perkelahian gladiator, tempat duduk penonton berkeliling, semakin kebelakang semakin tinggi. Amphipater pada masa kaisar Vespasianus (695 SM) dipergunakan untuk peragaan perang-perangan seperti di laut bebas dan Circus (sirkus), tempat untuk berpacu kuda yang menarik kereta beroda dua.
  • Thermen
    Merupakan tempat pemandian dengan ruang-ruang mandi berair panah, berair hangat dan dingin.
  • Bangunan istana
  • Gerbang kemenengan
  • Tiang kemenangan
Pada masa Gothik (100 – 1400 M), kebudayaan Romawi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan agama kristen. Agama kristen atau Nasrani sebenarnya telah berkembang sejak jaman pemerintahan Tiberius. Agama ini disiarkan oleh Yesus (Isa) dari nazareth, yang dilahirkan di Palestina. Agama Kristen ini berbeda dengan kepercayaan rakyat Romawi yang poltheis. Agama Nasrani memiliki kepercayaan monoteis. Dengan pertimbangan-pertimbangan politik dan kemanan negara, Tiberius menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus pada tahun 33. Tetapi kematian Yesus ini tidak berarti agama Kristen lenyap dari kehiduapan masyarakat Romawi, malahan sebaliknya.

Setelah Yesus atau Nabi Isa disalib dibukit Gologota, agama Kristen berkembang sampai Mesir, Syria, Asia Kecil, dan ke Roma. Hampir selama tiga abad para pengikut agama Kristen dalam ketakutan dan dikejar-kejar oleh penguasa Roma. Pada tahun 395 agama kristen ditetapkan sebagai agama negara. Dari masyarakat pemeluknya lambat laun timbul suatu bentuk kelompok kegerejaan yang disusun menurut organisasi-organisasi yang ada di Imperium Romanum (penguasa Roma).

Periode Gothik seni Kristen mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan oleh perpindahan pemerintahan dari Konsatantinopel ke Byzantium. Kekaisaran romawi mengalami perpecahan menjadi Romawi Barat dan Romawi Timur. Romawi Barat mengalami keruntuhan tahun 335 M.

Ketika penguasa Roma masih memusuhi para pengikut agam kristen, di Roma sendiri secara sembuyi-sembunyi berkembang seni Katamba. Sejak saat itulah lahir seni Katakomba yang meruapakn tanda lahirnya seni kristen awal. Katakomba sendiri merupakan kuburan-kuburan bawah tanah.

Kemudian dalam masyarakat Romawi pada masa Gothik ini selalu melakukan kebiasaan untuk berkumpul di ruangan terowongan dengan tujuan mengadakan kegiatan agama. Dari seringnya diadakan perkumpulan, kemudian berkembang kebiasaan masyarakat untuk menghiasi dinding dengan motif jaman kuno. Motif-motif klasik yang digambar dalam dinding-dinding terowongan ini, kemudian tergeser oleh perkembangan motif-motif modern atau baru. Motif-motif yang baru ini biasanya berbentuk manusia dan binatang yang digambarkan secara simbolik untuk kepentingan agama kristen. Karya seni kristen awal ini anatara lain lukisan-lukisan kristus sebagai "gembala yang baik". Pada umumnya yang mengembangkan seni Katakomba ini adalah bukan seniman. Bagi mereka yang erpenting adalah dapat mengungkapkan arti dan ide melalui lukisan dan sebagai bakti mereka kepada agama kristen. Namun, justru "seniman-seniman" Katakomba ini menjadi pelopor seni nonrelistik pada abad pertengahan.

Ketika gereja mengalami kemerdekaan kembali pada abad ke-4, kemudian agama kristen dijadikan agama resmi, mulailah perkembangan seni banguan gereja. Pada masa itu, para arsitek membangun gereja dengan menggunakan konsep dasar seni bangunan basilika bangsa Romawi, yaitu suatu bangunan untuk pertemuan-pertemuan umum berbentuk persegi panjang. Perkembangan selanjutnya adalah bagunan gereja dengan menara lonceng pada bad ke-6.

Seni bangunan pada bangunan gereja adalah bangunan geraja dengan denah memusat dan berkubah serta menggunakan denah memanjang atau basilika dengan langit-langit datar atau dengan lengkung silang. Contoh seni bangunan pada masa gereja adalah bangunan gereja St.Andrea di Mantua dan gereja St.Novella di Feirence.